IMPLEMENTASI PROGRAM BACA TULIS AL-QUR’AN METODE YANBU’A UNTUK MENGATASI PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BACA TULIS AL-QUR’AN
IMPLEMENTASI PROGRAM BACA TULIS AL-QUR’AN METODE
YANBU’A UNTUK MENGATASI PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BACA TULIS
AL-QUR’AN
OLEH
SUMIYATUN, S.Ag
SDN 3 TLOGOMULYO
Abstrak: Masalah dalam
penelitian ini yaitu rendahnya kemampuan dalam membaca dan menulis Al-Qur’an
siswa di SDN 3 Tlogomulyo. dari aspek bacaan terdapat siswa yang kesulitan
membedakan makrajul huruf dan
terbata-bata dalam bacaan, dari aspek menulis belum memenuhi indikator sesuai
kaidah Imla wal Khat. Pada
implementasi program Baca Tulis Al-Qur’an bertujuan untuk mendeskripsikan
proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta faktor pendukung dan penghambat
dalam implementasinya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif,
dengan pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun
teknik analisis datanya dengan tiga tahapan yaitu, reduksi data, penyajian data
dan penarikan kesimpulan. keabsahan data menggunakan triangulasi data dan triangulasi
teknik melalui pengecekan berbagai sumber, cara dan waktu untuk perolehan data.
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa implementasi program Baca Tulis
Al-Qur’an berjalan cukup baik. Kaitannya dengan program Baca Tulis Al-Qur’an
terhadap siswa, peran kepala sekolah, guru pengampu dan peran orangtua dapat
memberikan kontribusi besar dalam proses pembelajaran Al-Qur’an siswa tersebut
mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi agar dapat
meningkatkan kemampuan dalam membaca, menulis dan hafalan Al-Qur’an siswa yang
tentunya sesuai dengan kaidah tajwid, pedoman menulis Al-Qur’an dan target
hafalan yang telah ditentukan oleh sekolah. Adapun faktor pendukungnya yaitu
fasilitas yang memadai, guru yang berkompeten serta semangat tinggi pada siswa.
Faktor penghambatnya yaitu kemampuan siswa bervariasi, keterbatas waktu,
program terhenti karena pandemi serta siswa yang kurang mendapatan perhatian
dari orangtuanya.
1. Pendahuluan
Indonesia adalah negara yang mempesona dengan kekayaan budaya yang
tak tertandingi, dari Sabang hingga Merauke, keanekaragaman budaya dan tradisi
adat yang kaya menjadi ciri khasnya. Beragamnya etnis, ras, dan agama di
Indonesia telah menciptakan landasan yang kokoh bagi keberagaman budaya yang
begitu menakjubkan. Setiap sudut negeri ini memancarkan warna-warni kebudayaan
yang unik, menciptakan pemandangan yang memukau dari pandangan hingga perilaku
serta bawaan pribadi setiap individu. Namun, dengan kekayaan ini juga datang
tantangan. Perselisihan budaya dapat menimbulkan konflik jika tidak diatasi
dengan pengertian dan penghormatan satu sama lain Potensi pendidikan manusia
adalah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Orang harus lebih belajar
agar tidak tertinggal dengan orang
lain karena kemajuan teknologi semakin cepat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, misalnya, telah mengubah hampir semua aspek kehidupan.
Problematika kehidupan di Indonesia sampai saat ini adalah
pendidikan. Problema ini mencuat karena melibatkan semua faktor pembentuk
keberhasilan atau kegagalan pendidikan, khususnya terkait pendidik dan peserta
didik. Munculnya problema ini akibat kebijakan pemerintah Indonesia yang sering
melakukan perubahan kurikulum pendidikan, persaingan pendidikan baik yang
bersifat internal dan eksternal, tidak meratanya kesejahteraan guru, pudarnya profesionalisme pada jiwa
guru, distingsi latarbelakang pendidikan guru dan karakter peserta didik,
sarana prasarana, lingkungan, dan proses pembelajaran. Berkebalikan dari
resiprositas dalam pendidikan ialah tindakan atau hubungan sepihak yang
diistilahkan dalam ilmu Sosiologi sebagai eksploitasi, di mana ketika hubungan
antara dua pihak maka yang diuntungkan hanya satu pihak saja dan bahkan
bersifat destruktif. Pendidikan memegang peranan penting dalam pembangunan nasional
karena memungkinkan suatu negara menghasilkan warga negara yang berkualitas
yang dapat berkontribusi bagi kemajuan negara.
Sebagai komunitas besar, negara memiliki orang-orang dari semua lapisan
masyarakat dan kelas sosial (Muhlishotin & Shafatunnida, 2023)
Al-Qur’an adalah wahyu atau firman Allah subḥānahu wataʿālā yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam dengan perantara Malaikat Jibril, atau dengan cara yang
lebih baik menggunakan Bahasa Arab untuk pedoman dan petunjuk bagi manusia yang
merupakan mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam yang terbesar kemudian diterima oleh umat Islam secara mutawatir.
Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW
untuk disampaikan dan didakwakan kepada seluruh umat manusia. Ayat-ayat
al-Qur’an sebagai petunjuk yang senantiasa relevan dengan zaman dan tempat tidak luntur dengan kemajuan peradaban
manusia. Al-Qur’an senantiasa
memberikan
kepada manusia petunjuk sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk yang dapat
dididik dan mendidik. Dengan al-Qur’an, manusia dapat mengetahui hakikat
dirinya dan tujuan penciptaannya di dunia
ini (Tang., 2023).
Mempelajari al-Qur’an adalah
Kewajiban, hendaklah bagi seorang muslim yang senantiasa
selalu beribadah kepada Allah Subḥānahu Wataʿālā dengan cara mempelajari
al-Qur’an terlebih lagi menghafalkannya, sebagai seorang penghafal al-Qur’an kegiatan menghafal adalah suatu kegiatan
yang digunakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkan al-Qur’an
kepada para sahabatnya (Halisah et al., 2024).
Pendidikan merupakan agenda permasalahan universal yang ditemui dari
masa kemasa, apalagi perkembangan ilmu pengetahuan dibidang pendidikan
menjadikan sebuah tanda kemajuan dari sebuah peradaban manusia dalam
menerjemahkan sebuah keilmuan yang diteliti (Arif Pramana Aji, 2023).
Permasalahan yang ada setelah penulis melakukan observasi yaitu pembelajaran di
sekolah tersebut masih sangat berpusat pada guru saja, dan ketika
berlangsungnya proses pembelajaran guru hanya menjelaskan materi dengan metode
ceramah dikarenakan banyak guru belum mengenal berbagai banyak metode
pembelajaran (Zulkifli & Jumadi, n.d.).
Pemilihan metode pembelajaran yang tepat merupakan cara para guru mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Sehingga metode pembelajaran adalah hal yang sangat mendasar
untuk dikuasai oleh seorang pengajar. Dikarenakan Metode adalah suatu unsur
yang mendasar dalam suatu pembelajaran, sehingga keberhasilan seorang pengajar
di dalam pengajarannya tergantung ketepatannya dalam memilih metode
pembelajaran yang diterapkanya (Halisah et al., 2024). Dalam melaksanakan
kegiatan belajar mengajar baik guru maupun peserta didik memiliki kendala yang
dapat menghambat jalannya pembelajaran. Seperti kondisi ruang pembelajaran yang
sangat ramai terutama saat melaksanakan kegiatan individual yang menyebabkan
guru kesulitan menangani kondisi kelas, guru sulit membuat rencana pembelajaran,
masih banyak siswa yang lupa huruf hijaiyah yang diajarkan, serta siswa yang
memiliki minat belajar yang kurang. Untuk itu peneliti perlu membahas lebih
detail lagi mengenai hal tersebut.
Adapun rumusan masalah dan tujuan penelitian yaitu bagaimana implementasi
program Baca Tulis Al-Qur’an dalam upaya meningkatkan kemampuan baca
tulis Al-Qur’an pada siswa di SDN 3 Tlogomulyo. Apa saja faktor pendukung dan
penghambat dalam proses implementasi program Baca Tulis Al-Qur’an pada siswa di
SDN 3 Tlogomulyo. Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini sebagai
berikut: Mengetahui implementasi dalam pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an di SDN
3 Tlogomulyo. Mengetahui peningkatan dalam menerapkan pembelajaran Baca Tulis
Al-Qur’an di SDN 3 Tlogomulyo.
Sekolah SDN 3 Tlogomulyo sangat memperhatikan kemampuan membaca dan
menulis al-Qur’an bagi peserta didiknya dengan menerapkan program BTA demi
meningkatkan kemampuan membaca dan menulis peserta didik. Seiring berjalannya waktu SDN 3 Tlogomulyo
sudah dapat mengatasi problematika tersebut seperti pada tahun ajaran 2021/2022
SDN 3 Tlogomulyo sudah melaksanakan program IQRA yang mewajibkan semua peserta
didik di SDN 3 Tlogomulyo untuk mengikuti program tersebut. Untuk waktunya
sendiri sekolah menyediakan Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an waktu sekitar 30
menit yaitu dari pukul 07.15 sampai dengan 07.45. Sedangkan untuk harinya,
sekolah menjadwalkan setiap hari Jum at, Dan untuk pengajarnya sekolah menujuk salah
satu guru yaitu guru Baca Tulis Al-Qur’ untuk mendampingi dan mengajarkan IQRA
kepada peserta didik.
2.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang menggunakan
pendekatan kualitatif. Metode kualitatif merupakan strategi inkuiri yang
menekankan pada pencarian makna, pemahaman, konsep, karakteristik, gejala,
simbol, dan gambaran fenomena. Fokus dan metode majemuk bersifat natural dan
komprehensif, mengutamakan kualitas, menggunakan berbagai metode, dan gaya
naratif (Mustaqim, 2016).
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan secara tringulasi (gabungan), analisis
data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan makna daripada generalisasi (Rasid et al., 2021).
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu
penelititan yang berupaya memvisualisasikan suatu fenomena
atau masalah terkini yang terjadi
dalam kehidupan sosial masyarakat berdasarkan realita yang tampak di
lapangan (Jumadi & Muzakki, 2020). Penelitian dilaksanakan di SDN 3
Tlogomulyo Kec. Gubug Kabupaten Grobogan.
Waktu pelaksanaan di bulan Juli 2023. Adapun data dalam penelitian ini
diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi di SDN 3 Tlogomulyo.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
semi-terstruktur. Wawancara semi-terstruktur memungkinkan peneliti untuk
mendapatkan pemahaman yang mendalam. Instrumen wawancara dikembangkan
berdasarkan tujuan penelitian dan pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan
sebelumnya, Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an
(BTQ) dengan metode yanbu’a dalam pembelajaran al-Qur’an serta kendala/masalah
yang dihadapi oleh guru/ustadzah selama pembelajaran berlangsung.
1.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Wasania salah
satu guru BTA di SDN 3 Tlogomulyo, melihat keadaan yang demikian maka dari
pihak sekolah memikirkan solusi yang
tepat, bagaimana agar para peserta didiknya bisa membaca dan menulis al-
Qur‟an. Sesuai dengan salah satu misi sekolah yaitu menjalankan ajaran agama
islam dengan benar dan sesuai dengan tujuan pendidikan di SDN 3 Tlogomulyo
yaitu 50% peserta didik mampu membaca al-Qur'an dengan benar maka sekolah
mencetuskan suatu program yaitu Program BTA. dan sudah banyak mengalami perubahan dan
pergantian banyak hal diantaranya waktu, tenaga pengajar, dan untuk peserta
didiknya pun banyak yang berubah. Banyaknya perubahan diantaranya memiliki
problematika tersendiri.
a.
Gambaran umum program Baca Tulis Al-Qur’an
Program BTA merupakan program untuk mengembangkan
kemampuan dan potensi siswa pada bidang agama Islam. Program ini dirancang agar
lulusan sekolah tidak hanya menguasai keilmuan umum, tetapi juga menguasai
bidang keilmuan agama seperti baca tulis Al-Qur’an.
Karena Al-Qur’an dapat membuat manusia bisa hidup dengan tenang secara
perseorangan maupun hidup bermasyarakat.
Sebagai umat Islam sangatlah meyakini dan mempercayai
bahwasannya Al-Qur’an diturunkan oleh Allah subḥānahu wataʿālā kepada Nabi
Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai pedoman hidup yang harus
dipelajari serta diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Tanpa adanya kemampuan
membaca Al-Qur’an, manusia tidak dapat mengerti isinya serta tanpa
mengamalkannya manusia tidak dapat merasakan keutamaan dan juga petunjuk
yang diberikan oleh Allah subḥānahu
wataʿālā didalam Al-Qur’an
(Ramadhani & Werdiningsih,
2022). Oleh karenanya, sekolah terus berupaya untuk mendidik siswa agar mampu
membaca dan menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Upaya sekolah dalam mendidik siswanya
agar mampu membaca
dan menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar adalah
dengan cara mengadakan program BTA. SDN 3 Tlogomulyo menganggap bahwasannya
program BTA merupakan program yang sangat penting untuk ada di sekolah. Berdasarkan hasil data yang diperoleh, menunjukkan bahwa sekolah
berkeinginan untuk dapat memeberi
wadah, membembing, mendidik
dan mencetak siswa menjadi
generasi yang cinta terhadap Al-Qur’an.
Ketika
kegiatan belajar mengajar berlangsung guru Qur’an selalu memberikan motivasi
kepada siswanya di awal pembelajaran maupun di akhir pembelajaran agar lebih
rajin dan bersemangat dalam membaca Qur’an serta mengulang kembali bacaannya di
sekolah maupun di rumah (Halisah et
al., 2024). Pengulangan materi adalah kegiatan memecahkan masalah dengan
mengulang pelajaran yang telah dipelajari dengan memasukkan informasi ke dalam
memori jangka panjang. Tujuan dari pemahaman ini adalah untuk mengulang dan
memperdalam materi yang belum dipahami siswa, sehingga siswa memahaminya dengan
baik dan mengingatnya dalam waktu yang lama. Semakin sering Anda mengulanginya,
semakin baik Anda memahami apa yang sedang diulang (Jumadi & Nur Masithoh,
2023).
Selain itu, program BTA ini memiliki tujuan agar siswa
mampu membaca dan menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar bahkan siswa akan
terbiasa untuk membaca Al-Qur’an dengan magkhorijul huruf dan tajwid yang baik
dan benar. Tajwid merupakan ilmu yang digunakan untuk dapat mengetahui
bagaimana tatacara mengucapkan huruf-huruf yang ada didalam Al-Qur’an
(Ramadhani & Werdiningsih, 2022). Dalam hal ini SDN 3 Tlogomulyo
menerapkannya dalam metode Iqra’ sehingga siswa dapat praktik secara langsung
didepan guru pengampunya untuk membaca Iqra’ dan langsung dibenarkan ketika ada
kesalahan dalam membacanya sesuai dengan kaidah tajwid serta makhorijul
hurufnya.
Diantara materi BTA melalui metode Iqra ialah diajarkan
secara bertahap sesuai dengan tigkatan bacaan siswa dari Iqra satu sampai enam.
Sedangkan untuk menunjang kualitas bacaan diberikan penguatan materi tajwid
dengan menjelaskan masing-masing hukum bacaan.
1.
Kemampuan
siswa yang sangat bervariasi atau beragam dalam membaca Al-Qur’an. Hal tersebut disebabkan karena adanya siswa
yang tidak mengikuti TPA di lingkungan rumah siswa sehingga
siswa belajar membaca dan menulis Al-Qur’an hanya di sekolah saja. Hal tersebut
mengakibatkan guru sedikit kesulitan dalam mengajar BTA khususnya terhadap
siswa yang tidak mengikuti TPA di lingkungan rumahnya karena sering tertinggal
dengan siswa lainnya.
2.
Keterbatasan
waktu pada saat pembelajaran berlangsung dimana guru seharusnya mampu
mengalokasikan waktu yang diberikan sekolah secara baik dalam proses
pembelajaran agar dapat berjalan secara efektif dan efisien. Salah satu kendala
yang dialami guru adalah waktu yang cukup singkat untuk mengajar siswa yang
jumlahnya cukup banyak. Hal tersebut mengakibatkan kondisi kelas tidak kondusif
serta siswa yang membutuhkan bimbingan secara lebih sering tidak
mendapatkannya, bahkan terkadang ada siswa yang tidak mendapatkan giliran untuk mengaji di depan guru serta
untuk menyetorkan hafalan yang telah dihafal siswa.
3.
Program BTA yang sempat terhenti selama 2 tahun lebih dikarenakan adanya pandemi covid-
19. Hal tesebut terjadi karena sekolah tidak mengadakan pembelajaran
secara daring dimana siswa juga terkendala masalah signal di area rumah
masing-masing. Oleh karena itu, masih banyak siswa yang memiliki kemampuan baca
tulis Al-Qur’an sangat kurang dan tertinggal, bahkan banyak siswa yang awalnya
berada di Iqra’ jilid 4 atau 5, mengulang kembali dari Iqra’ jilid 1.
4.
Persepsi orangtua
siswa yang melepas
tanggung jawab untuk
memberikan bimbingan tambahan di rumah masing-masing. Hal
tersebut terjadi karena oarangtua menganggap bahwa anaknya telah mendapatkan pembelajaran
Al-Qur’an disekolah dan juga di TPA, maka orangtua tidak perlu mengajarkan
kembali di rumah, bahkan siswa cenderung diajak bermain oleh teman- temannya
sehingga lupa untuk mengulang kembali pelajaran yang telah didapatkan.
Sedangkan solusi atau usaha untuk mengatasi faktor
penghambat di atas sebagai upaya untuk menanggulangi agar tidak semakin parah.
Adapun solusi yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Guru dapat mengatur dan mendesain suasana kelas untuk
lebih menarik lagi agar siswa tidak mudah jenuh dalam belajar.
2. Memberikan dorongan ataupun motivasi lebih kepada
siswa yang tertinggal dengan menggunakan berbagai jenis pendekatan yang humanis dan kondisional.
3. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kemampuan
dalam membaca dan menulis Al-Qur’an mereka agar guru dapat mensiasati waktu
pembelajaran yang cukup sedikit.
4. Memberikan masukan kepada orangtua siswa agar terus
membimbing anak-anaknya dalam belajar Al-Qur’an. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan memberikan pandangan orangtua terkait
tentang pentingnya untuk belajar Al-Qur’an.
2.
Kesimpulan dan Saran
Dari hasil penelitian dan pembahasan terkait
implementasi program pembelajaran BTA di SDN 3
Tlogomulyo maka ditarik kesimpulan bahwa:
a. Implementasi program Baca Tulis Al-Qur’an
Pertama, perencanaan program pembelajaran BTA di SDN 3 Tlogomulyo dengan
mengadakan rapat guru dan disosialisasikan ke wali siswa. Sekolah membentuk
kepengurusan, penjadwalan, mencari guru pengampu, penentuan teknis pelaksanaan,
penyampaian teknis program ke guru pengampu, memberikan tes ke siswa. Kedua, pelaksanaan program pada hari jum
at di kelas
setelah sholat duha.
Pembelajaran diawali doa bersama, guru membuka
pelajaran, memberikan tugas latihan menulis, mengaji secara satu persatu, siswa
menulis Al-Qur’an sembari menunggu giliran mengaji yang kemudian diakhiri
mengaji bersama dan doa penutup. Untuk metodenya yaitu metode Iqra’ serta
strategi tertentu guna mengkondisikan kelas. Ketiga, evaluasi dilakukan ketika siswa selesai dalam satu jilid
dan untuk yang Al-Qur’an setiap kali pertemuan dan ketika belum memenuhi
capaiannya maka mendapatkan jam tambahan dan mengulang kembali. Dan untuk
penilaian menulis siswa akan dilakukan pada setiap kali pertemuan.
b.
Faktor pendukung
dan penghambat pada implementasi program
BTA
Faktor pendukungnya yaitu fasilitas sekolah yang
memadai, guru pengampu yang berkompeten serta semangat
yang tinggi pada siswa. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kemampuan siswa bervariasi,
keterbatas waktu, program sempat terhenti serta orangtua yang kurang memberikan
perhatian tersebut kepada anaknya.
Saran Pertama,
kepala sekolah hendaknya memberi motivasi lebih kepada guru dan siswanya, terus
meningkatkan kualitas program, memberikan pelatihan tambahan guru pengampu,
mengontrol berjalannya program secara terus menerus serta tanggap dalam
bertindak mengatasi kendala yang terjadi. Kedua,
guru pengampu BTA hendaknya terus belajar memperluas keilmuan untuk memahami
strategi yang digunakan dalam mengajar.
Daftar Pustaka
Arif Pramana Aji, M. A. (2023). Regulasi Advokasi
Pendidikan Agama Islam Di Indonesia. PAIDA:
Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(1),
192–201.
Halisah,
Aji, A. P., & Gani, A. (2024). Upaya Guru Qur ’ an Dalam Menangani
Problematika Hafalan Al-Qur ’ an
Siswa Kelas VIII SMPIT Alam Mutiara Insan Sorong. PAIDA; Jurnal Pendidikan Agama Islam UNIMUDA Sorong, 3(1), 335–344.
Muslikah, S. (2018). Metode Yanbu’a untuk Meningkatkan
Kemampuan Membaca Al-Quran pada Kelompok B-2 RA Permata Hati Al-Mahalli Bantul.
Jurnal Pendidikan Madrasah, 3(2), 293.
Siregar, H. D., Wassalwa, M., Janani, K., Harahap, I.
S., Gusti, I., & Ari, A. (2024). Al
itihadu jurnal pendidikan. 3(1).
Suyanto, B. (2013).
Masalah Sosial Anak. Jakarta : Kencana, 389.
Tang., A. (2023).
Active Learning Dalam Perspektif Sababu
Nuzul Wahyu Pertama
Dalam al-Qur’an.
Jurnal PAIDA., 2(1), 152.
Komentar
Posting Komentar